Fenomena Unik pada Temuan Makam Ratu Ibu

Makam Rato Ibu tampak cantik, masih kokoh dari sudut depan. (Sumber :  Maduraday.com/Dinda Dwi Cahaya.)

Maduraday.com – SAMPANG (16/11/18), Masa kejayaan islam, hadir dalam benak sejarah seiring dengan perjalanan agama Hindu dan Budha yang telah menyebar sebelum islam masuk di Indonesia. Kita mungkin telah memahami maksud ornamentasi sebagai wujud karya seni luhur yang mencerminkan pola ragam hias masa tertentu. Seperti ornamentasi cantik yang terdapat pada Makam Ratu Ibu, Madegan Sampang, Madura Jawa Timur. 
Saat memasuki kompleks makam, anda akan menemui Gapura berjenis Paduraksa yang menjadi simbol adanya  pola adaptatif dari kebudayaan pra islam. Pola ragam hias yang memang telah ada pada awal masa Islamisasi di Madura ini, juga menjadi tanda masih dijalankannya kepercayaan animisme-dinamisme pada masa itu. Arsitektur Makam Ratu Ibu itu sendiri, memiliki undak-undakan yang masih asli tertata dari batu, modelnya pun berupa candi. Ornamentasi tersebut menjadi sebuah gambaran tentang pandangan keagamaan dan pola relasi sosial dari masyarakat Madura. 
Ratu Ibu atau ‘Rato Ebuh’ adalah istri dari Pangeran Tengah (Raja Arosbaya Bangkalan). Ratu Ibu dan Pangeran Tengah memiliki anak yang bernama Raden Prasena atau Pangeran Cakraningrat I. Saat Pangeran Tengah meninggal, Raden Prasena bersama Ratu Ibu berpindah ke Madegan Sampang yang saat itu dipimpin oleh saudara Ratu Ibu yakni Pangeran Mertosari. Sampai wafatnya, Ratu Ibu dikebumikan di Madegan Sampang yang dikenal dengan ‘Makam Rato Ebuh’.
 “Yang mempertahankan makam mereka sampai saat ini, adalah mereka sendiri. Mistisnya, ini kokoh sampai sekarang meski telah ratusan tahun tapi tetap cantik dan unik. Ini asli tidak dibuat oleh penjaga atau yang lainnya. Tidak pernah direnovasi dari yang semula. Sangat terlihat semangat menyebarkan islamnya. Mereka tidak memikirkan untuk makan sendiri, melainkan mereka memikirkan bagaimana menyebarkan agama islam dengan kekentalan agama lain saat itu. Inilah mengapa makamnya masih kokoh sampai saat ini.” Ujar Mukhsin, selaku penjaga makam.
Ornamentasi pada makam dapat menjadi sarana bagi yang ingin memahami semangat spiritualisasi masyarakat Madura. Ada sentuhan ‘keberanian’ dalam rangkaian motif di sepanjang makamnya. “Pendekatan kepada Sang Pencipta, harapan tentang kehidupan di surga, menjadi pola yang dominan menghiasi makam-makam kuno di kompleks ini. Motif geometris, tumbuhan, alam nyata dan alam imajiner tampil secara sempurna pada ornamen di beberapa makam tokoh penguasa Madura di masanya (kisaran abad ke-17 M).” Ungkap Hairil Anwar, Sejarawan asal Sumenep. (RA)

Posting Komentar

0 Komentar