Hedonisme Merusak Generasi Muda

Ilustrasi gaya hidup hedonisme atau konsumtif. (Sumber : http://farid-wajdi.com/detailpost/gaya-hidup-dan-konsumerisme)


Maduraday.com, BANGKALAN - Terungkap sejumlah tanda tanya akan mahasiswa hukum yang desas-desusnya telah banyak di perbincangkan oleh banyak orang tentu saja gaya hidup, perilaku, dan sikapnya saat di dalam maupun di luar kampus, tak heran mereka menjadi buah bibir yang sontak membuat para mahasiswa ber-ekonomi rendah menjadi iri karnanya, namun disisi lain saat mahasiswi lain prodi berebutan merebutkan mahasiswa anak hukum karna sosialnya yang dianggap tinggi melebihi ekonomi dan ilmu politik ternyata masih ada sisi positif dan negative dari eksistensi anak hukum di universitas trunojoyo Madura.
sebut saja dudung remaja berusia 20 tahun ini memberberkan rahasianya akan adanya perilaku konsumtif berlebihan dikalangan mahasiswa hukum yang memang banyak orang pula sudah tau akan hal ini,singkat cerita dudung ini berasal dari keluarga yang sederhana atau di atas rata-rata dengan keinginan-nya untuk berkuliah karena tuntutan lingkungan. waktu itu dudung belum merasakan atmosfer yang berbeda saat menjadi maba katakanlah mahasiswa baru semester 1 yang mungkin masih perkenalan dengan prodi,fakultas,dan kampus dan ternyata setelah dijalani memang kesolidan mereka juga sama seperti halnya prodi-prodi lain hingga masuklah di awal semester dua.
Beberapa mahasiswa-pun disibukan oleh simulasi sidang yang mengharuskan mereka setiap harinya melakukan tatap muka dengan teman-teman lain dan menjalin kerja sama agar terciptanya kekompakan saat melakukan sidang yang notabe-nya hanya sebagai peran palsu antara mahasiswa 1 dan mahasiswa lainnya ada yang bertindak sebagai Mahkamah agung,jaksa,pembela,penuntut,dan tersangka. Sebagai simulasi mereka telah lulus dengan sempurna dan memainkan peran-peran mereka namun kenyataan di dunia nyata setelah akhir semester 2 ternyata baru disadari di kelas ternyata sudah banyak pengelompokan-pengelompokan mahasiswa yang notebe-nya “kaya” atau anak-anak orang yang memiliki jabatan dan kekayaan yang tinggi pula.
Tak berhenti disitu ternyata sebagaian kelas lain pun sama halnya dengan kelas saya. “Saya melihat bahwa saat itu banyak teman-teman saya yang dari cara berpakaian pun sudah berbeda dengan saya,pakaian yang ber-merk kendaraan yang layak,dan isi dompetpun tak pernah tipis”tutur dudung. Mungkin banyak yang menilai hukum ini hedonisme memang benar akan hal tersebut namun mereka tetap bisa menjaga komunikasi dengan teman lainnya walaupun tak setiap harinya meraka bertegur sapa,dan “adapula “mereka” atau mahasiswa yang ngakunya orang kaya namun kenyataanya dibawah rata-rata yang mengikuti pola hidup konsumtif dari geng sosialita ini, benar mereka sanggat welcome terhadap perempuan ini namun saya tidak tahu persis bagaimana ia mencari uang untuk kesenangan nya bersama teman-teman sosialita nya.” Tutur dudung (09/11/18)
Sisi kelam hukum tak berhenti disitu banyak mahasiswa hukum pun yang melakukan transaksi ke berbagai orang untuk dapat mengerjakan tugas-tugasnya sebut saja calo kampus,orang yang bertugas mencarikan jasa-jasa mengerjakan tugas yang dirasa enggan dan malas untuk mereka “kaum sosialita” malas untuk mengerjakan nya,sejauh ini pun dosen masih ambil diam dan tidak membeberkan hal ini saat perkuliahan walaupun ia tahu bahwa itu bukan pekerjaan dari mahasiswa nya. “Saya rasa mungkin bukan anak hukum saja yang dapat membeli tugas anak prodi lain pun juga bisa membeli tugas seperti ini.”. saya rasa ini hal biasa yang terjadi di fakultas kami, dan itu masih bisa di toleransi bagi kami hanya saja mungkin tindak pembully an pun itu yang dirasa cukup meresahkan, bagi mereka yang memiliki konflik dengan mahasiswa lain pun melakuakn bully terhadap individu ini,utung saja tidak berakhir menjadi konflik berkelanjutan namun terkadang pembully-an mereka kurang pantas di dengarkan oleh khalayak umum di fakultas hukum ini.
Jika dipertinjau lagi sikap mereka pun akan merubah pola pikir mereka kedepan-nya jika calo-pun sekarang masih digunakan makan nantinya-pun saat mereka masuk di dunia politik mereka tak segan untuk mendapatkan suara terbanyak dengan money politik.“saya berharap kedepan-nya untuk teman-teman saya di fakultas hukum,agar nantinya sadar bahwa apa yang kita miliki saat ini akan masih berguna kedepannya, jika sikap konsumtif kalian saat ini berlebih kalian nanti kelak akan menggunakan uang pun untuk meraih suara terbanyak jadi stop ini sekarang di diri kalian janganlah kalian tanamkan pada junior kalian,lebih baik kalian mencari teman yang dapat membantu kalian di kala suka duka bukan teman yang datang lalu pergi” ucap dudung. (SLV)

Posting Komentar

0 Komentar